Teknologi yang merubah manusia part1

robot-technology-ilmukelasberat

Opini

Teknologi yang merubah manusia part1

iPad sedang jadi buah bibir dunia. Komputer tablet berukuran 9,7 inci buatan Apple ini memang menawarkan banyak hal baru. Salah satunya, kenikmatan membaca media online. Dengan teknologi layar sentuh yang menjadi andalan Apple, jika ingin memperbesar tampilan artikel atau gambar, cukup gerakkan jari di layarnya, maka gambar langsung membesar. Serasa aksi Tom Cruise dalam film Minority Report.

Untuk menciptakan histeria pasar, Apple menyebut iPad sebagai magical and revolutionary device at an unbelievable price. Harganya memang murah. Di Amerika cuma US$ 499 per unit, di Indonesia sekitar Rp 7 juta. Bisa dipastikan, setelah iPad bakal bermunculan berbagai perangkat yang jauh lebih canggih.

Teknologi informasi yang berlari kencang telah mengubah manusia. Kita jadi kian multitasking, bisa melakukan banyak hal bersamaan. Kini, orang bisa menyetir mobil, sembari membayar karcis tol, dan pada saat yang sama melakukan pembicaraan bisnis lewat ponsel, sekaligus mendengarkan berita di radio.

Dalam sebuah penelitiannya, Albert Bandura, pakar Social Learning, menemukan bahwa susunan saraf seorang petani tradisional yang bermukim di sebuah dusun di Afganistan tidak sekompleks susunan saraf seseorang yang tinggal di kota besar Eropa, pada masa yang sama. Rupanya, secara alami susunan saraf manusia berkembang seiring dengan kompleksitas kesehariannya, di mana teknologi banyak berperan.

Perkembangan teknologi informasi juga telah mengubah pola interaksi manusia, bahkan mengubah nilai-nilai. Teknologi membuat yang jauh jadi dekat, tapi juga membuat yang dekat jadi begitu jauh.

Bulan lalu, saat hendak mudik ke Padang, saya melihat sekumpulan manusia yang seolah terhipnotis sebuah benda di ruang tunggu bandara. Sembari menunggu keberangkatan pesawat yang delay, orang-orang sibuk sendiri dengan laptop atau ponselnya. Padahal dulu, ruang tunggu bandara ini tak ubahnya ruang reuni. Kenal tidak kenal, orang-orang yang berasal satu kampung itu biasanya terlibat obrolan yang mengasyikkan.

Di acara arisan keluarga sama saja. Meski datang jauh-jauh untuk bersilaturahim, nyatanya diam-diam orang-orang sibuk mencuri waktu untuk chatting atau gonta ganti status di Facebook.

Pola laku anak pun berubah. Di era 80-an anak senang jika ayah ibu berlama-lama di kamarnya. Mengobrol sebelum mengucapkan selamat tidur, lalu ayah ibu memadamkan lampu sebelum ke luar kamar. Tapi lihatlah kini, kebanyakan anak enggan bercengkrama di ruang keluarga. Mereka lebih suka mengurung diri di kamarnya bersama internet. Kalau coba-coba mengintip layar komuter mereka, siap-siap saja mendengar omelan, “Idih, mama rese, mau tahu…. aja!”

Teknologi juga mengubah perilaku bekerja. Dulu, seorang jurnalis mungkin merasa hanya bisa menghasilkan tulisan yang baik di ruangan yang akrab dengannya, sembari merokok, dan mengenakan celana pendek usang yang sudah robek. Tapi kini, dia harus bisa membuat tulisan yang sama baik, bahkan lebih baik, di ruangan penuh orang tak dikenal, tanpa rokok, dan tentu saja tidak memakai celana pendek robek.

Perkembangan teknologi informasi menuntut kearifan baru untuk mencegah ekses buruknya. Kearifan yang sama juga dituntut di dunia bisnis. Sebab, perubahan yang datang bersama dengan perkembangan teknologi, juga menghadirkan dua sisi, yakni peluang dan ancaman.